Selasa, 01 Maret 2016

Kunci-kunci Perilaku yang Berbasis Etnomatematika



Setiap daerah di Indonesia memiliki berbagai macam kebudayaan yang menarik. Salah satu contohnya di daerah Pemalang terdapat Monumen Kiai Makmur. Setelah ditilik kembali, monument tersebut merupakan budaya yang mempunyai unsur etnomatematika. Hal itu disebabkan karena bentuk-bentuk geometri yang ada pada monumen tersebut. Seperti yang kita ketahui ethnomatematika merupakan pola pikir matematika yang tumbuh dan berkembang di dalam kebudayaan tertentu. Melalui pola pikir matematis, kelompok kebudayaan tersebut mampu memahami dan mendapatkan solusi atas masalah yang ditemui dalam setiap aktivitasnya. Sekarang ini kita harus memikirkan bagaimana caranya meningkatkan budaya yang berunsur etnomatematika.
            Perkuliahan etnomatematika memaparkan tentang bagaimana cara meningkatkan budaya yang berunsur etnomatematika.  Cara meningkatkannya adalah secara intensif dan ekstensif. Secara intensif artinya kita sebagai generasi penerus bangsa mendata berbagai kebudayaan yang ada di daerah masing-masing, Di ekstensikan artinya tidak hanya kebudayaan sendiri yang dicari, contohnya monument Kiai Makmur. Itu hanya salah satu titik yang berdampak ke masyarakat. Cipta rasa karsa masyarakat yang diasah, di awetkan kemudian menjadi sebuah artefak dan buku.
Era modern saat ini, banyak generasi muda yang bersifat eksploitatif. Sifat eksploitatif ini berbahaya. Karakter eksploitatif adalah sifat kejiwaan, budi pekerti, atau  perilaku yang mengedepankan kepentingan diri sendiri dengan cara mengambil dari pihak atau orang lain secara tidak baik. Dalam kegiatan memunculkan gagasan atau ide mereka lebih memilih untuk ingin mencuri atau membajak daripada menciptakan. Mereka ingin mengungkapkan pendapat mereka, akan tetapi biasanya merupakan pendapat hasil mencuri (Feist dan Feist, 2011: 238). Untuk itu, generasi muda saat ini selalu dijejali agar berfikir positif. Salah satu contohnya Indonesia diapit oleh dua benua dan dua samudra. Jika kita berfikir positif maka hal tersebut merupakan peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan berbagai keuntungan. Selain itu Indonesia dapat mempengaruhi benua Asia dan Australia.
Sebagai landasan agar tetap berbuat positif adalah hati yang terus berdoa. Berdoa berfungsi sebagai apersepsi yang paling tinggi dan sekaligus dasar dalam melakukan sesuatu hal. Jika orang yang tidak mempunyai landasan tersebut tentunya hidup orang tersebut tidak teratur. Dengan landasan tersebut, sifat eksploitatif dapat dikendalikan sebagai kesadaran untuk hidup seimbang. Sebagai contoh akibat dari orang-orang yang tidak punya hati adalah munculnya Dajjal. Dajjal adalah keadaan yang merusak dunia, termasuk membabat hutan, untuk menanam kelapa sawit. Akibatnya hutan tersebut kehabisan air karena sifat dari pohon kelapa sawit adalah menyedot air. Selain itu binatang-binatang juga diburu sehingga habislah binatang-binatang sekarang ini banyak yang langka dan punah. Kita perlu mengetahui bahwa hidup kita disebabkan oleh potensi orang lain. 
Kembali lagi ke ranah etnomatematika, bahwa etnomatematika bisa bersinggungan dengan sejarah seperti kota Pemalang. Perlu juga kita mengidentifikasi jenis-jenis artefak, karena etno ada gagasan, yang berupa ide, rumus, atau sastra dan artefak. Etno adalah kontekstual. Daerah datar biasanya demokratis, inovatif, banyak ide. Daerah gunung itu sesuai pakemnya (tata cara yang kokoh). Pakem wayang janaka serius, tetapi karena dalangnya ‘edan’, janaka cengengesan. Jika dihubungkan dengan alat peraga matematika maka alat perga tersebut dikembalikan ke struktur dan konsep matematika. Diatasnya alat peraga ada model konkrit dan formal, baru nanti sampai ke matematikanya. Seperti itulah hidup yang terstruktur dan berdimensi.

Referensi:
1.      Utami, Indah. 2014. Karakter Eksploitatif sebagai salah satu Penyebab Kemerosotan Moral Mahasiswa. Diunduh pada tanggal 2 Maret 2016 dari https://www.academia.edu/9960548/KARAKTER_EKSPLOITATIF_SEBAGAI_SALAH_SATU_PENYEBAB_KEMEROSOTAN_MORAL_MAHASISWA.

Selasa, 23 Februari 2016

ETHNOMATEMATIKA DI DUSUN BUDAYA CEBONGAN LOR



Budaya merupakan aset suatu negara sangat mendominasi. Budaya Indonesia yang begitu bergam tesebar di seluruh pelosok Indonesia. Tidak dipungkiri bahwa budaya-budaya yang ada di Indonesia dapat menjadi bahan ajar dalam matematika yang disebut sebagai etnomatematika. Salah satunya terdapat di dusun Cebongan Lor. Dusun Cebongan Lor merupakan dusun yang dapat dikatakan sebagai kota kecil karena terletak di wilayah yang strategis. Dusun tersebut diapit tempat-tempat vital seperti kawasan pemerintahan kecamatan Mlati, puskesmas, pasar, swalayan, sekolah-sekolah, lapangan dan berbagai tempat yang digunakan sebagai perkumpulan warga. Lantas, dusun tersebut seperti layaknya kota yang dipenuhi dengan lalu lalang orang dan banyak bangunan-bangunan yang sudah berdiri. Meskipun demikian, Cebongan Lor merupakan suatu dusun yang masih kental akan budaya. Budaya-budaya yang berada di Cebongan Lor juga erat kaitannya dengan etnomatematika.
Etnomatematika merupakan ranah inovasi yang berhubungan dengan budaya dan matematika. Etnomatematika terdiri dari dua kata, etno (etnis/budaya) dan matematika. Itu berarti bahwa dalam ethnomathematics, matematika terkait dengan budaya. Selanjutnya, menurut Ascher di Rex Matang (2002) budaya berarti bahasa masyarakat, tempat, tradisi, dan cara-cara pengorganisasian, menafsirkan, konseptualisasi, dan memberikan makna terhadap dunia fisik dan sosial. Sekarang ini sudah banyak etnomatematika yang disisipkan dalam pembelajaran matematika guna meningkatkan pemahaman konsep-konsep matematika.
Berikut ini merupakan kekayaan di Cebongan Lor dan dalam lingkup kecamatan Mlati yang mengandung etnomatematika:
1.      Perhitungan Neptu Jawa dan Pasaran
Pasaran adalah nama pada 5 hari dalam satu siklus, yaitu Legi, Pon, Wage, Kliwon, Pahing. Sedangkan neptu adalah nilai dari jumlah hari dan pasaran. Masyarakat Cebongan Lor masih banyak yang menganut perhitungan Jawa demikian ketika memilih calon pasangan hidup atau untuk menentukan tanggal pernikahan. Melalui konsep tersebut telah menggunakan konsep matematika seperti operasi penjumlahan bahkan sampai perkalian modulo.
2.      Penampungan Benda Cagar Budaya Mlati
         
    (Sumber: http://tarabuwana.blogspot.co.id/2010/10/penampungan-bcb-mlati.html)

Tempat penampungan Benda Cagar Budaya Mlati merupakan situs yang digunakan untuk menampung benda-benda purbakala yang ditemukan di daerah kecamatan Mlati termasuk dusun Cebongan Lor. Benda-benda tersebut dikategorikan sebagai etnomatematika karena bentuk-bentuk yang terdapat pada benda tersebut melibatkan konsep matematika. Salah satunya adalah konsep geometri. Benda-benda tersebut terdapat konsep geometri seperti model bangun datar yaitu persegi, persegipanjang, trapesium, segitiga, segitiga samakaki, segitiga samasisi, segilima, serta belah ketupat, model bangun ruang, meliputi kubus dan balok, model sifat matematis, meliputi sifat simetris, dan konsep translasi (pergeseran), serta pola dilatasi persegi.

3.      Satuan Lokal
Masyarakat jawa sudah memiliki satuan-satuan local untuk menghitung jumlah bahan makanan tertentu. Satuan lokal bahan makanan, meliputi satuan sajumput dan sacakup untuk satuan cabai, unting untuk satuan ikat kangkung, sawi, maupun kacang panjang, dompol/ ombyok untuk satuan tunggal petai, tundun serta cengkeh untuk satuan tunggal pisang, serta sejinah untuk satuan setiap 10 biji jagung, ataupun kue dan makanan-makanan tertentu. Konsep matematika seperti bilangan bulat jelas terdapat dalam satuan local tersebut.
4.      Gerabah dan Peralatan tradisional
Gerabah dan peralatan tradisional merupakan contoh bentuk etnomatematika masyarakat Cebongan Lor, layah (cobek) berbentuk lingkaran, entong berbentuk elips, capil berbetuk kerucut, ilir dan kelasa berbentuk persegipanjang, sabit menggunakann konsep garis lengkung, serta benda peninggalan budaya lainnya yang memiliki bentuk-bentuk geometri.
 5.      Permainan Tradisional
Konsep matematika sebagai hasil aktivitas bermain berkaitan dengan aktivitas mengelompokkan, menghitung atau membilang, dan lainnya dapat diungkap dari Masing-masing permainan tersebut memiliki konsep matematika sebagai berikut (Rachmawati, dalam Eksplorasi budaya masyarakat Sidoarjo):
a. Hompimpa dan suit: konsep peluang
b. Jangklet (engklek): model persegi dan persegipanjang
c. Jantengan (bola bekel): konsep translasi, membilang, penjumlahan serta pengurangan pada bilangan bulat 1 sampai 5.
d. Lompat tali: konsep garis lurus dan garis lengkung.
e. Bermain pasir: konsep bangun ruang.
f. Pasaran: konsep aritmatika sosial, meliputi nilai mata uang serta operasi bilangan bulat.
g. Sengidanan (petak umpet): konsep menghitung bilangan dari 1 s.d. 10.
h. Dakon: konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian pada bilangan bulat.

Referensi:
1.      Jurnal Unesa yang berjudul “Eksplorasi Ethnomatematika Masyarakat Sidoarjo” oleh Inda Rachmawati. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
2.      Karya tulis berjudul Aplikasi Borobudur Ethnomathematics, Media Pembelajaran Matematika Sebagai Pendukung Pembelajaran Geometri Berbasis Etnomatematika” oleh Miftah Rizqi Hanafi. Universitas Negeri Yogyakarta. 2014
3.      http://tarabuwana.blogspot.co.id/2010/10/penampungan-bcb-mlati.html

Puisi "Senja dan Dirinya"

Senja dan Dirinya Senja mulai berganti malam hiruk pikuk suara memenuhi semua penjuru ruangan aku melihat seseorang terdiam memandangku...